🕋 KHUTBAH PERTAMA
Mukadimah
Amma ba’du.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya di lisan, bukan hanya di mimbar, tetapi hadir dalam hati, dalam pilihan hidup, dalam keputusan harian kita.
Allah Ta’ala berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok. (QS. Al-Hasyr: 18)
Hari esok yang dimaksud bukan sekadar hari Senin atau Selasa, tetapi hari ketika kita berdiri sendirian di hadapan Allah.
Manusia dan Dosa: Realitas yang Tak Terelakkan
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Tidak ada satu pun manusia yang bersih dari dosa. Kita mungkin terlihat baik di hadapan manusia, tetapi di hadapan Allah kita membawa catatan amal yang panjang ada yang membuat kita malu jika dibuka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat. (HR. Tirmidzi)
Perhatikan kalimatnya: kullu bani Adam khaththa’ setiap anak Adam banyak salah. Bukan sekadar salah sekali, tetapi berulang-ulang. Maka dosa bukan aib terbesar kita. Yang menjadi masalah adalah ketika kita tidak mau kembali kepada Allah.
Rasulullah ﷺ Teladan dalam Istighfar
Padahal Rasulullah ﷺ adalah manusia yang telah diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang. Namun beliau tetap beristighfar setiap hari.
“Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain disebutkan bahkan seratus kali.
Bayangkan… Nabi yang maksum saja merasa perlu istighfar sebanyak itu. Lalu bagaimana dengan kita yang shalat masih lalai, lisan masih menyakiti, mata masih memandang yang haram, hati masih iri dan sombong?
Betapa sering kita merasa aman, padahal dosa terus menumpuk.
Istighfar dan Rahasia Rezeki
Jamaah rahimakumullah,
Sering kali kita menyempitkan makna istighfar hanya pada penghapusan dosa. Padahal Al-Qur’an menunjukkan bahwa istighfar adalah kunci keberkahan hidup.
Allah berfirman dalam kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam:
“Aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, menjadikan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)
Betapa banyak orang bekerja keras siang malam, tetapi tetap sempit. Betapa banyak rumah besar tetapi hati penghuninya gelisah. Bisa jadi yang kurang bukan usaha — tetapi istighfar.
Allah juga berfirman:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Hud: 3)
Kenikmatan yang baik bukan hanya banyaknya harta, tetapi hati yang tenang, keluarga yang rukun, hidup yang cukup.
Istighfar dan Kelapangan Hidup
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang melazimi istighfar, Allah akan jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesedihan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Allah berfirman:
“Wahai hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)
🕋 KHUTBAH KEDUA
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mari kita jadikan istighfar sebagai amalan harian.
Allah memuji orang-orang beriman:
“Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 18)
Waktu sahur adalah waktu sunyi. Waktu ketika banyak manusia terlelap. Di situlah hamba-hamba pilihan Allah bangun, menangis, dan memohon ampun.
Motivasi Menghidupkan Istighfar
Bayangkan jika kita membaca 100 kali istighfar setiap hari. Dalam setahun lebih dari 36.000 kali kita mengetuk pintu ampunan Allah.
Istighfar hanya kalimat ringan di lisan:
Tetapi berat di timbangan amal.
Bisa jadi keselamatan kita di akhirat karena satu istighfar yang keluar dari hati yang tulus.
Doa Penutup
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ…
Tulis Komentar
Silakan tinggalkan pesan atau pertanyaan Anda dengan sopan.