🕋 KHUTBAH PERTAMA
Mukadimah
Amma ba’du.
Hadirin Jamaah Jum'at Masjid Karang Baru yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah ﷻ yang masih mengizinkan kita menghirup udara segar di desa kita yang asri ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sang pembawa cahaya kebenaran. Melalui mimbar yang mulia ini, khatib tak henti-hentinya berwasiat kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian: marilah kita rawat dan tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ﷻ dengan sungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Masjid Megah Namun Sepi Jamaah
Jamaah Jum'at yang berbahagia,
Di tengah desa kita tercinta ini, berdiri sebuah masjid yang alhamdulillah dari tahun ke tahun bangunannya semakin bagus. Atapnya sudah tidak bocor, lantainya sudah keramik, dan suara *speaker*-nya pun terdengar jernih hingga ke ujung kampung. Kita semua bangga bergotong-royong menyumbang semen, pasir, dan tenaga untuk membangunnya.
Namun, mari kita jujur pada diri sendiri bapak-bapak sekalian. Bangunan masjid kita memang semakin makmur, tetapi bagaimana dengan jamaahnya? Seringkali, saat adzan Subuh berkumandang atau saat adzan Ashar terdengar mengudara, yang shalat di masjid hanya imam, muadzin, dan segelintir orang tua kita yang sudah sepuh. Ke mana para pemudanya? Ke mana bapak-bapak yang badannya masih sehat dan kuat mencangkul berjam-jam di sawah?
Allah ﷻ menegaskan siapa sebenarnya orang-orang yang berhak disebut sebagai pemakmur masjid dalam Surat At-Taubah ayat 18:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)
Teguran Melalui Kisah Sahabat yang Buta
Saudaraku warga desa Karang Baru,
Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh hati di zaman Rasulullah ﷺ. Seorang sahabat yang bernama Ibnu Ummi Maktum datang menemui Nabi. Beliau adalah seorang lelaki tua yang buta matanya. Tidak ada orang yang bisa menuntunnya berjalan ke masjid, sementara jalanan di Madinah saat itu banyak binatang buas dan gelap jika malam hari.
Ia meminta keringanan kepada Rasulullah ﷺ: "Ya Rasulullah, bolehkah aku shalat wajib di rumah saja?" Awalnya Rasulullah mengizinkan. Namun ketika sahabat buta itu berbalik pulang, Rasulullah memanggilnya kembali dan bertanya:
"Apakah engkau mendengar panggilan adzan untuk shalat?" Ia menjawab, "Iya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Kalau begitu, penuhilah (datanglah ke masjid)!" (HR. Muslim)
Allahu Akbar! Seorang tua, buta, tidak ada yang menuntun, dan jalanan berbahaya, tetap diwajibkan oleh Nabi untuk melangkahkan kakinya ke masjid selama telinganya masih mendengar suara adzan.
Lalu apa alasan kita di hadapan Allah kelak? Mata kita awas, motor kita punya, jalanan aspal desa sudah mulus, dan badan kita sehat bugar. Tidakkah kita malu jika adzan berkumandang tapi kaki ini terasa berat melangkah sejauh beberapa ratus meter saja ke rumah Allah?
Nasihat Praktis: Janji Pahala yang Berlipat
Mari kita ubah kebiasaan kita, bapak-bapak sekalian. Nasihat dari khatib hari ini sangat sederhana:
Rasulullah ﷺ menjanjikan keuntungan yang luar biasa besar yang mengalahkan keuntungan panen apa pun di dunia ini:
"Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dibandingkan shalat sendirian." (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga langkah kaki bapak-bapak sekalian dari rumah menuju masjid ini dihitung sebagai penggugur dosa dan pengangkat derajat di sisi Allah ﷻ.
🕋 KHUTBAH KEDUA
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.
Hadirin jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Di khutbah kedua ini, mari kita kuatkan niat di dalam hati. Pulang dari ibadah Jum'at ini, ajaklah anak laki-laki kita, ajaklah tetangga dan kawan-kawan di warung untuk membiasakan diri shalat berjamaah. Jangan biarkan masjid desa kita yang sudah dibangun dengan keringat dan susah payah ini menjadi sepi dan kosong.
Mari kita tundukkan kepala sejenak, memohon ridha dan ampunan dari Allah ﷻ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah Yang Maha Mengetahui kelemahan hamba-Nya. Ampunilah kelalaian dan kemalasan kami selama ini yang enggan melangkahkan kaki memenuhi panggilan-Mu. Berikanlah kekuatan kepada kaki-kaki kami ini agar ringan melangkah menuju masjid-Mu.
Ya Allah, makmurkanlah desa kami Karang Baru. Turunkanlah rahmat dan barokah kepada para pemuda dan orang tua kami yang meramaikan shaf-shaf shalat berjamaah. Jadikanlah setiap tetes keringat kami bernilai ibadah di sisi-Mu.
Jadikanlah anak-anak kami sebagai generasi penyejuk mata yang mencintai masjid, memelihara syariat-Mu, dan berbakti kepada nusa, bangsa, dan agama.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Tulis Komentar
Silakan tinggalkan pesan atau pertanyaan Anda dengan sopan.